Ada Tiga Jenis Mimpi, Mana yang Boleh Diceritakan?

512

Muslim Obsession – “Mimpi adalah bunga tidur,” demikian kata orang tua kita. Artinya, tidak perlu kita terlalu risau untuk memikirkan isi mimpi tersebut. Benarkah demikian?

Dalam ajaran Islam, mimpi mendapatkan porsi pembahasan yang cukup menarik. Pasalnya, mimpi menjadi sesuatu yang tak terpisahkan dari kehidupan setiap manusia. Di sisi lain, melalui mimpi, sesungguhnya manusia tengah diberi pengetahuan tentang adanya hal yang ghaib.

Ustadz Khalid Basalamah dalam sebuah kajian mengatakan, mimpi terbagi ke dalam tiga jenis. Ketiganya memiliki tiga perlakuan yang berbeda oleh para pemilik mimpi tersebut.

Ketiga jenis mimpi ini diketahui berdasarkan hadits dari sahabat ‘Auf ibn Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Mimpi dibagi menjadi tiga kriteria. Pertama, mimpi buruk dan menakutkan juga menyedihkan. Pastikan itu dari setan. Kedua, mimpi yang menggelisahkan seseorang karena terus saja terbawa walaupun dia sudah bangun. Ketiga, mimpi yang merupakan petunjuk dan merupakan cabang dari mukjizat kenabian atau yang dikenal dengan ru’yah shadiqah,” (HR. Ibnu Majid dan Ibnu Abi Syaibah)

Mimpi buruk ini tidak disukai oleh siapapun karena mimpi itu juga menakutkan dan bisa membuat sedih. Mimpi jenis ini berasal dari setan.

Menurut Ustasd Khalid, jenis mimpi kedua ini biasanya disebabkan karena gejolak yang sedang ada di benaknya, baik di dalam hati maupun pikirannya.

“Misalkan dia sedang berpikir untuk membuka sebuah usaha, terus ia berpikir untuk meminjam uang dari seseorang. Atau dia berpikir untuk membuat tokonya memiliki bentuk tertentu kemudian ia mimpi melihat itu. Itu terbawa karena perasaan dia,” ujarnya.

Dalam hadits lain, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Mimpi itu tiga macam, yakni bisikan hati, ditakut-takuti oleh setan, dan kabar gembira dari Allah,” (HR. Bukhari).

Berdasarkan dua hadits di atas, jelas Ustadz Khalid, para ulama merincikan sikap apa yang perlu dilakukan terhadap ketiga mimpi tersebut.

Untuk jenis mimpi pertama yang berasal dari setan, si pemilik mimpi tidak perlu menceritakannya kepada orang lain, apalagi ditakwilkan atau ditafsirkan.

“Artinya semua mimpi yang membuat Antum sedih dan gelisah, tidak usah cerita. Tutup mulut saja. Baik kepada pasangan hidup, teman di kantor, atau sahabat, tidak usah diceritakan,” jelas Ustadz Khalid.

Dalam kaitannya dengan jenis mimpi ini, terdapat sebuah hadits dari Jabir radhiyallahu ’anhu. Bahwa seorang laki-laki pernah datang kepada Rasulullah ﷺ, lalu ia berkata: “Ya Rasulallah, aku mimpi melihat kepalaku dipenggal. Kemudian kepalaku menggelinding dengan cepat dan aku berusaha mengejarnya untuk memegangnya. Apa yang dimaksud dengan itu Ya Rasulallah?” Lalu Nabi ﷺ tertawa dan mengatakan, “Apabila setan mempermainkanmu dalam mimpimu, maka janganlah kau menceritakannya”. Dan berkata Jabir radhiyallahu ‘anhu setelah itu, “Saya pernah mendengar Nabi ﷺ sampaikan di atas mimbar, “Bila seseorang di antara kalian dipermainkan setan di dalam mimpinya, maka janganlah dia ceritakan”,” (HR. Muslim).

Ini juga sesuai dengan hadits Nabi ﷺ lainnya, bahwa “Apabila kalian bermimpi buruk, hendaklah meludah ke sebelah kiri tiga kali dan memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan setan dan dampak buruk dari mimpi tersebut. Lalu jangan ceritakan mimpi itu kepada orang lain. Maka mimpi itu (jika melakukan tiga hal tadi) tidak akan berdampak buruk kepadanya,” (HR. Bukhari dan Muslim).

“Sementara mimpi kedua, yaitu mimpi yang berasal dari bisikan hati, juga diperlakukan sama seperti pada mimpi pertama kali. Ia membaca isti’adzah, meludah tiga kali ke samping kiri, dan tidak menceritakan kepada siapapun,” ungkap Ustadz Khalid.

Seperti disebutkan di atas, bisikan hati ini berarti apa yang sedang terlintas di benak seseorang yang terlalu dipikirkan sehingga terbawa ke dalam mimpinya.

“Termasuk juga mimpi suka dengan seseorang yang membuatnya mandi junub. Terlalu suka sama seseorang berlebihan akhirnya di mimpi biologis di situ,” kata Ustadz Khalid.

Sedangkan mimpi yang ketiga adalah ru’yah shadiqah. Yaitu mimpi yang benar dan datangnya dari Allah Ta’ala. Mimpi ini menggembirakan secara positif karena tidak unsur kemaksiatan di dalamnya.

Misalnya, bermimpi mengunjungi atau thawaf di Ka’bah, masuk ke surga, ikut berjihad, atau sedang shalat berjamaah, hadir di pengajian atau mengisi pengajian, itu semua masuk ke dalam ru’yah shadiqah.

Imam Malik radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Tidak patut semua mimpi diceritakan, hanya mimpi-mimpi baik saja”.

“Dan termasuk sunnah Nabi ﷺ adalah menceritakan mimpi tersebut. Mimpi baik itu termasuk juga mimpi bertemu dengan Rasulullah ﷺ,” tutup Ustadz Khalid. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here