Ada Tiga Jenis Manusia, Satu di Antaranya Harus Disingkirkan

195
Ilustrasi: Tiga anak yang bersahabat.

Muslim Obsession – Sebagai makhluk yang diberikan akal oleh Allah, manusia memiliki potensi untuk menentukan arah yang benar atau salah. Manusia juga bisa mencari dan menentukan mana teman yang baik untuk dirinya atau harus disingkirkannya.

Dalam konteks ini, Ustadz Tb. Syamsuri Abdul Halim menjelaskan bahwa ada tiga jenis manusia berdasarkan kitab Bidayah Al-Hidayah yang ditulis Hujjatul Islam Imam Abu Hamid bin Muhammad Al-Ghazali rahimahullah ta’ala.

احدهم مثله مثل الغذاء لا يستغنى عنه والاخر مثل الدواء يحتاج اليه فى وقت دون وقت والثالث مثله مثل الداء لا يحتاج اليه قط ولكن العبد قد يبتلى به وهو الذى لا انس فيه ولانفع فتجب مداراته الى الخلاص منه وفي مشاهدته فائدة عظيمة ان وفقت لها وهو ان تشاهد من خبائث احواله وافعاله ما تستقبحه فتجنبه

“Pertama, ada jenis manusia yang diibaratkan seperti makanan. Ia sangat diperlukan di manapun. Manusia seperti ini perlu untuk dirangkul karena kehadirannya akan memberikan manfaat kepada kita,” ujar Ustadz Syamsuri kepada Muslim Obsession, Ahad (27/9/2020).

Kedua, Imam Al-Ghazali menyebutkan bahwa ada manusia yang diibaratkan seperti obat. Manusia jenis ini hanya diperlukan sewaktu-waktu saja. Kehadirannya sangat bermanfaat, tetapi hanya ketika seseorang memerlukannya untuk sebuah hajat.

Ketiga, ada jenis manusia yang diibaratkan seperti penyakit yang sama sekali tidak diperlukan. Kehadiran jenis manusia ini sama sekali tidak memberikan manfaat, bahkan sebaliknya selalu menebar mudharat.

“Nah, jenis manusia ini harus disingkirkan. Keberadaannya tidak menyenangkan dan tidak pula memberikan manfaat. Tapi seorang hamba kadangkala diuji dengannya. Kita harus berpaling darinya agar selamat,” urai pimpinan Majelis Dzikir Ibnu Halim ini.

Kendati demikian, ketika menyaksikan tingkah lakunya dan jika paham maka kita sesungguhnya akan mendapatkan manfaat yang besar. Yaitu, dengan menyaksikan kondisi dan perbuatannya yang buruk, sehingga kita akan membenci dan menghindar darinya.

“Karena menurut Syekh Al-Imam Abu Hamid bin Muhammad Al-Ghozali, orang yang bahagia adalah yang bisa mengambil pelajaran dari orang lain. Sebab seorang mukmin merupakan cermin bagi mukmin yang lain,” ungkap Ustadz Syamsuri. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here