Ada 4,7 Juta Santri Belajar di 34 Ribu Pesantren di Indonesia

105
Wakil Ketua Umum MUI, Zainut Tauhid Sa'adi. Foto istimewa.
Wamenag Zainut Tauhid Sa'adi.

Serpong, Muslim Obsession – Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi mengatakan, saat ini ada sekitar 4,7 juta santri yang belajar di 34 ribu pondok pesantren di Indonesia.

Menurutnya, jumlah santri yang besar menunjukkan bahwa pesantren sangat berkontribusi dalam mencerdaskan dan mencetak generasi emas Indonesia di masa depan.

Demikian dikatakan Wamenag saat menutup Al-Multaqa Ad-Dawliy lil-Bahts ‘an Afkar At-Thullab wa-Dirasat Pesantren (Mu’tamad) atau Simposium Khazanah Pemikiran Santri dan Kajian Pesantren, di Serpong, Jumat (15/10/2021).

BACA JUGA: Wamenag: Santri Bisa Jadi Ulama, Pengusaha, Bahkan Presiden

“Pesantren memiliki kekayaan khazanah keilmuan yang terekam dalam literatur kitab kuning. Kekayaan khazanah ini diajarkan melalui sanad keilmuan yang tidak terputus sehingga membentuk hubungan dan jaringan intelektual,” ujarnya.

Wamenag menjelaskan, antara satu pesantren dengan pesantren lain, baik dalam satu kurun zaman maupun dari satu generasi ke generasi berikutnya, terjalin hubungan intelektual yang mapan. Sehingga, autentisitas pesantren mampu menjadi rujukan cara beragama yang otoritatif.

Simposium diselenggarakan Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Ditjen Pendidikan Islam. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri 2021.

BACA JUGA: Peringati Hari Santri, Kemenag Akan Gelar Sayembara hingga Bagikan 22 Juta Masker

Zainut mengapresiasi penyebutan simposium ini dengan Mu’tamad. Menurutnya, istilah ini dalam literatur pesantren ditafsirkan sebagai pandangan ulama mu’tabar dan dijadikan landasan fatwa keagamaan.

Mewakili Direktur PD Pontren, Kepala Subdirektorat Pendidikan Diniyah dan Ma’had Aly, Aceng Abdul Aziz melaporkan, Mu’tamad merupakan rebranding dari Muktamar Pemikiran Santri Nusantara (MPSN) yang digelar pada tahun-tahun sebelumnya.

Even ini menjadi forum bagi para santri, mahasantri alumnus hingga pesantren dalam merespon berbagai macam problematika zaman.

BACA JUGA: Kemenag Siapkan Bantuan untuk Pesantren, Ini Syaratnya

“Mu’tamad tahun ini telah menyajikan beberapa spesial panel yang membahas kemandrian pesantren, transformasi kultur akademik dan budaya pesantren pasca pandemi Covid-19, serta pesantren dan pengarusutaman perempuan,” jelas Aceng.

Berlangsung tiga hari, 13 – 15 Oktober 2021, Mu’tamad diikuti 117 santri, maha santri, dan alumni pesantren serta penggiat kajian pesantren. Hal ini sesuai jumlah naskah karya ilmiah yang terseleksi dari ratusan naskah yang masuk.

“Naskah peserta tersebut, 3 berasal dari DKI Jakarta, 17 dari Jawa Barat, 17 dari jawa tengah, 20 dari Yogyakarta, 42 dari Jawa Timur, 18 dari luar Jawa,” terangnya. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here