Abul Aswad Ad-Duali, Sang Peletak Tanda Baca Al-Quran

105
Al-Quran terbuat dari Sutra (Foto: Beritaonline)

Muslim Obsession – Kitab suci Al-Quran yang menjadi pedoman hidup umat Islam, awalnya tak mudah untuk dibaca. Al-Quran diturunkan Allah subhanahu wata’ala melalui Malaikat Jibril tidak dalam bentuk mushaf melainkan ungkapan lisan yang didengar Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Penyusunan Al-Quran sebagai mushaf baru terjadi di era Khalifah Utsman bin Affan. Di era inilah muncul Rasm Utsmani, dimana Al-Quran ditulis agar bisa dibaca masyarakat.

Rasm Utsmani tidaklah seperti tulisan Al-Quran saat ini. Rasm Utsmani ditulis dengan khat Kufi tanpa tanda titik ataupun harakat sebagai tanda baca.

Beruntung, di era itu masih banyak masyarakat Muslim yang hafal Al-Quran sehingga Rasm Utsmani mudah dibaca.

Persoalan kemudian muncul di era berikutnya. Masyarakat Muslim diketahui banyak melakukan kesalahan ketika membaca mushaf Al-Quran.

 

Terinspirasi kegalauan Khalifah Ali

Di era kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, terjadi peristiwa penting dalam sejarah penulisan Al-Quran. Kesalahan-kesalahan yang ada menjadi motivasi untuk merumuskan tanda baca dalam Al-Quran.

Tokoh utama di balik sejarah ini adalah Abul Aswad Ad-Duali. Memiliki nama asli Dzalam bin Amru bin Sufyan bin Jandal bin Yu’mar bin Du’ali, ia biasa dipanggil dengan nama Abul Aswad, sementara Ad-Duali merupakan nisbat dari kabilahnya yang bernama Du’al dari Bani Kinanah.

Abul Aswad Ad-Duali merupakan seorang tabi’in, murid sekaligus sahabat khalifah keempat, Ali bin Abi Thalib. Ia lahir pada 603 Masehi dan wafat pada 688 Masehi.

Abul Aswad Ad-Duali menjadi sosok yang berkiprah sangat penting bagi Muslimin. Dialah yang menemukan kaidah tata bahasa Arab (Nahwu), salah satunya kaidah pemberian harakat.

Sebagaimana diketahui, bahasa Arab tak mengenal adanya harakat. Masyarakat Arab menggunakan dialek kebiasaan saat mengucapkannya.

Bayangkan betapa sulitnya membaca Al-Quran dengan arab gundul, tanpa tanda harakat satu pun.

Dikutip dari Sari Sejarah, sebelum menjadi pakar nahwu, Ad-Duali banyak berkiprah di dunia politik. Ia sempat menjadi hakim di Bashrah pada era kekhalifahan Umar bin Khattab, hingga kemudian diangkat menjadi gubernur kota tersebut di masa kepemimpinan Ali.

Saat perang Jamal, Ad-Duali merupakan juru runding perdamaian antarkubu. Ia juga pernah diutus sahabat Rasulullah, Abdullah Ibn Abbas, untuk memerangi kaum Khawarij.

Ilmu nahwu kemudian dipelajari Ad-Duali langsung dari Khalifah Ali. Pada masa itu, menantu Rasulullah tersebut memang dikenal sebagai pakar nahwu.

Kemudian, atas permintaan Ali, Ad-Duali pun merumuskan ilmu nahwu serta membuat peletak dasar kaidah ilmu tersebut. Ali juga kemudian memerintahkan pemberian tanda baca atau harakat pada tulisan Arab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here