Ayah, Bunda, Berceritalah Untuk Anak-Anakmu!

1299
ibu sedang bercerita
Anak-anak lebih senang belajar kepada guru yang bercerita.

MuslimObsession.com – Anak-anak dikenal memiliki imajinasi yang sangat tinggi. Mereka akan segera berimajinasi ketika mendengar sebuah kisah tentang apapun. Bahkan, imajinasi itu akan tertanam kuat dan bukan tidak mungkin akan terus diingatnya hingga dewasa.

Inilah potensi alamiah yang Allah titipkan kepada anak-anak. Mereka akan sangat senang dengan cerita dan kisah, apalagi jika diceritakan oleh orangtuanya. Melalui cerita, sesungguhnya setiap orangtua dapat mengajari anak-anak tentang banyak hal.

Bercerita tentang Qarun, misalnya, anak-anak akan diajari tentang terlarangnya sikap sombong dan kikir. Begitupun cerita tentang Uwais Al-Qarni, setiap anak akan memiliki imajinasi untuk selalu berbakti kepada orangtuanya, terutama ibunda.

Di samping itu, anak-anak juga ibarat “mesin fotokopi”. Mereka akan sangat cepat mengikuti atau meniru setiap apa yang mereka lihat dan mereka dengar. Di sinilah peran kedua orangtua sebagai teladan yang akan menjadi role model-nya sehingga membentuk karakter si anak.

Anjuran agar orangtua menjadikan cerita sebagai ‘media’ untuk mengajari anak sudah diketahui sejak lama. Di era salafus shalih, metode pendidikan seperti ini mendapat perhatian serius. Mereka sering membacakan sejarah Islam kepada anak-anak mereka, mengenalkan para pahlawan Islam sebagai sosok yang harus diteladani dan dikagumi.

Bahkan, sejarah Islam menjadi concern untuk disampaikan kepada anak-anak mereka. Sejarah Islam menjadi pelajaran penting di era itu, sama pentingnya seperti mengajarkan Al-Quran kepada anak-anak mereka. ‘Ali bin Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib yang lebih dikenal dengan nama Zainul ‘Abidin berkata:

“Dulu kami diajarkan tentang (sejarah) peperangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana Al-Quran diajarkan kepada kami”.

Para ulama dahulu umumnya lebih senang membahas sejarah dibandingkan ilmu fiqh. Sejarah dinilai lebih mudah dicerna dan dapat memberikan semangat serta motivasi.

Dalam hal ini Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata, “Kisah-kisah (keteladanan) para ulama dan duduk di majelis mereka lebih aku sukai dari pada kebanyakan (masalah-masalah) fikh, karena kisah-kisah tersebut (berisi) adab dan tingkah laku mereka (untuk diteladani)”.

Kisah-kisah juga mendapat porsi dominan di dalam Al-Quran. Sepertiga dari isi Al-Quran diketahui berisi sejarah dan kisah-kisah para nabi dan umat di masa lalu. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka (para Nabi ‘alaihimussalam dan umat mereka) itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, serta sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (QS. Yusuf: 111).

Bercerita tentang kisah para Nabi kepada anak-anak, berarti mengajari mereka tentang tauhid, ciptaan dan kekuasaan Allah, akhlak, dan keteladanan. Tak hanya anak-anak, setiap orangtua juga dapat sama-sama mengambil pelajaran dan dan hikmah di dalamnya.

Ayah, Bunda, mari lebih semangat mengenalkan sejarah Islam kepada anak-anak. Jadikan diri kita sebagai guru terbaik bagi anak-anak dengan membawakan cerita dan menjelaskan hikmah di baliknya.

Ajari mereka tentang kemahakuasaan Allah, keteladanan para Nabi, dan keberanian para pejuang Islam agar mereka tumbuh dengan memiliki iman, islam, dan ihsan yang kokoh. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here