6 Penyebab Kita Gagal Kenal dengan Allah

386

Jakarta, Muslim Obsession – Puncak kebahagian bagi orang yang bertakwa adalah bisa kenal dan bertemu dengan Allah SWT. Namun, nyatanya tidak semua bisa kenal dengan Allah. Hanya orang-orang pilihan. Mereka adalah orang-orang yang hatinya penuh cinta dengan Allah.

Dr. Fahruddin Faiz Dosen Ilmu Tasawuf dan Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga dalam sebuah kajiannya membedah pemikiran ulama besar satu-satunya yang dijuluki Hujjatul Islam, yakni Imam Al-Ghazali. Ia menyebut ada beberapa sebab orang gagal kenal dengan Allah.

Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali kata Fahruddin, menyebut ada enam sebab orang gagal kenal dengan Allah.

1. Tidak yakin dengan Allah

Pertama kata Fahruddin, mereka adalah orang-orang yang tidak yakin Allah itu ada. Tanpa disadari orang Islam juga banyak yang menganggap Allah itu tidak ada, tidak pernah merasa mengawasi dan ikut campur dalam kehidupan manusia. Tapi pucak dari ketidakpercayaan terhadap Allah itu adalah orang-orang kafir.

“Orang-orang kafir ini menganggap manusia dan alam semesta ini terjadi begitu saja. Mereka tidak percaya adanya Allah sebagai sang pencipta. Mereka tidak mengakui, dan tidak percaya dengan Tuhan,” ujar Fahrudin dalam sesi kajian tasawufnya yang dikutip Muslim Obsession di akun youtobe M Chanel, Ahad (21/6/2020).

“0rang-orang seperti ini tidak mungkin bisa kenal dengan Allah,” tambahnya.

2. Orang yang tidak percaya hari akhir.

Kata Ghazali, orang-orang ini mengangap kehidupan hanya berlangsung di bumi. Mereka tidak percaya pada hari akhir, dan hari pembalasan. Mereka tidak percaya ada kehidupan setelah kematian. Orang-orang ini kata Ghazali, tak ubahnya seperti hewan dan tumbuhan.

“Ciri-ciri dari orang-orang ini adalah materialistik. Mereka menganggap akan mati begitu saja, tidak percaya adanya kehidupan akhirat,” jelasnya.

Allah tidak mungkin bisa dicintai dan dikenal oleh kelompok ini karena mereka terbiasa mencintai materi, mencintai harta, tahta, wanita dan segala kemewahan dunia. Sementara Allah, bukan sesuatu yang bersifat materi. Dia tidak terlihat, sehingga tidak mungkin dia kenal dengan Allah.

“Bagaimana dia bisa mencintai Allah, kelompok ini sangat cinta sama materi. Sementara Allah itu in-materi, dia bukan materi, tidak terlihat oleh mata. Bisa kamu mencintai yang tak terlihat oleh mata?” jelasnya.

3. Percaya Allah, tapi lemah iman

Kelompok ketiga ini sudah percaya Allah itu ada. Atau bahkan dia beragama Islam. Namun dalam praktiknya orang-orang ini tidak pernah mau menjalankan syariat Islam. Tidak mau beribadah, menjalankan perintah agama, malah sukanya melanggar larangan Allah.

“Perintah Allah dalam agama itu kan sama kaya dokter ngasih kamu resep, ngasih kamu obat. Kalau mau cepat sembuh ikuti anjuran dokter, obatnya diminum. Kalau tidak diminum, dokter nggak masalah, paling hidupmu yang rusak, cepat mati,” tuturnya.

4. Menganggap Syariat bertentangan dengan HAM.

Kelompok ini selalu merasa nafsu itu sesuatu yang alami ada dalam diri setiap manusia. Sehingga syariat yang melarang minuman keras, makanan-makanan haram, seks bebas, dianggap melanggar hak asasi manusia yang sejak kelahirannya sudah memiliki nafsu atau hasrat.

Aturan agama tentang tata cara berprilaku yang benar dianggap tidak sesuai. “Mereka ini mengangap syariat agama bertolak belakang dengan hak asasi manusia. Padahal soal seks aja kalau nggak diatur hidup ini kacau. Masa semua orang mau kita kawinin, kan nggak. Bisa kacau hidup ini,” jelasnya.

“Sama kaya kita mau makan? Apa semua makanan bisa kita makan, kan nggak. Tapi kita kan sukanya makan sama apa, bukan baiknya makan apa? Agama sebenarnya mengajari kita untuk mengerti batas,” tambahnya.

5. Orang yang menyepelekan dosa

Orang-orang ini kata Ghazali, adalah mereka yang selalu meremahkan dosa. Mereka tidak merasa takut melakukan dosa, melakukan maksiat karena menganggap Allah Maha Pengampun. Sehingga ia merasa apapun dosa yang dilakukan akan diampuni. Mereka meremehkan Allah.

“Mereka selalu meremehkan dosa karena dianggapnya Allah maha pengampun. Melakukan dosa kecil santai, lebih besar lagi tetap santai. Tenang ampunan Allah jauh lebih besar dari dosa kita. Mereka selalu begitu, meremahkan,” ujar Fahruddin.

“Kalau gayamu kaya gini kamu nggak bakal kenal Allah karena kamu meremehkan Allah,” tegasnya.

6. Orang sok soleh dan sok suci

Kelompok ini justru kebalikanya dengan kelompok yang di atas. Bisa jadi mereka terlihat seperti orang yang rajin ibadah. Namun ibadah malah membuatnya semakin sombong. Merasa suci, merasa soleh dan merasa dunia sudah tidak bisa menggangunya dari dosa.

Padahal kenyataanya, di balik itu, dia tidak paham dengan ilmu kesejatian. Dia tidak paham hakikat Allah. Al Ghazali menyebutnya sebagai mistikus palsu. Kelihatanya saja dari luar seperti orang soleh. Tapi dalam praktik kehidupnya masih suka terpancing, emosi, memaki, masih suka dendam, sombong, angkuh, dan merasa lebih tinggi.

“Orang yang nggak kenal Allah, nggak mungkin kenal dengan kebahagian sejati,” tutur Fahruddin.

Itulah enam penyebab kita gagal kenal dengan Allah. Imam Ghazali meminta kita untuk berpikir sejauh mana hubungan kita dengan Allah, apakah selama ini hanya sekedar tahu, apa sudah kenal, saling mengenal, sudah akrab, atau sudah sangat dekat, saling mencintai.

“Ayuk dilevel mana kita, kayanya masih hanya sekedar tahu,” kata Fahruddin disambut tawa oleh Jamaah.

“Kenyataanya kita kan lebih senang kenal dengan pejabat, kenal dengan presiden, kenal dengan artis. Ya kan,” tutur Fahruddin.

“Kalau hanya sebatas tahu, ya Allah berarti sama dengan kita juga, hanya sebatas tahu. Allah itu kan tergantung prasangkamu sama dia,” tandasnya.
(Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here