543 Ribu Mahasiswa Baru PTKIN Akan Dibekali Wawasan Islam Moderat

436
Ratusan ribu mahasiswa baru PTKIN akan dibekali wawasan Islam Moderat (Foto: Kemenag)

Bukittinggi, Muslim Obsession – Menyikapi maraknya ujaran kebencian dan gerakan keagamaan yang cenderung kurang menampilkan wajah Islam yang toleran dan damai, Kementerian Agama akan membekali mahasiswa baru Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Indonesia dengan wawasan Islam yang moderat (wasathiyah).

Rencana itu diutarakan Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Arskal Salim GP saat memberikan materi pada Koordinasi Wakil Rektor/Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan PTKIN se-Indonesia di Bukittinggi, Selasa (17/7/2018).

Menurut Arskal, Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) yang merupakan ritus penyambutan mahasiswa baru PTKIN, sangat efektif untuk mengenalkan sejak dini pemahaman Islam yang santun, damai, dan toleran.

“PTKIN menjadi benteng efektif ntuk melakukan counter ideologi dan counter wacana Islam radikal,” kata Arskal.

Rencananya 543.000 mahasiswa baru tahun akademik 2018/2019 yang berasal dari 58 PTKIN akan mendapatkan pencerahan tentang Pengarusutamaan Moderasi Islam dalam ajang PBAK yang akan dilaksanakan bulan Juli dan Agustus.

“Selain mengenalkan tradisi akademik dan kebebasan mimbar akademik, materi-materi PBAK akan dijadikan momentum memantapkan sikap toleransi dan maintriming moderasi Islam,” tandas Arskal.

Dikatakan Arskal, PTKIN akan mempelopori PBAK yang mainstreamnya adalah moderasi Islam untuk meredam paham-paham dan gerakan radikalisasi di kampus. Karenanya, dia berharap civitas akademika terutama Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan PTKIN dapat mendampingi pimpinan organisasi kemahasiswaan yang nantinya akan menjadi instruktur dalam PBAK.

Rektor IAIN Bukittinggi Ridha Ahida selaku tuan rumah mengajak para Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan untuk menjadikan fenomena gerakan radikalisme menjadi konsen bersama. “Kita harus mempunyai perspektif dan kepedulian yang sama agar PTKIN menjadi pelopor Islam yang wasathiyah,” tuturnya, seperti dilansir Kemenag.

Menanggapi sekelompok mahasiswa yang menghendaki pemakaian cadar di kampus, Ridha Ahida mengatakan, pihaknya tidak pernah mempersoalkan cadar. Menurutnya, yang ditegakkan adalah kode etik civitas akademika IAIN Bukittinggi yaitu bahwa mahasiswa harus menampakan wajah ketika mendapatkan layanan akademik di kampus.

“Kode etik kami mengatur tata cara mendapatkan pelayanan akademik termasuk dalam Proses Belajar Mengajar harus menampakan wajah”, kata Ahida.

Kasubdit Sarpras dan Kemahasiswaan Syafriansah mengatakan pihaknya akan mengawal serius PBAK agar dijadikan pintu gerbang terbaik bagi mahasiswa baru mengenal kampusnya.

“Para Mahasiswa Baru PTKIN harus memerankan dirinya sebagai agen-agen Islam yang moderat ditengah-tengah radikalisme yang semakin kuat,” tandasnya. (Vina)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here