Kenangan Indah Ustadz Insan Mokoginta

112

Oleh: Nuim Hidayat

“Saya bergaul dengan keluarga Muslim yang taat sekali. Saya melihat kehidupan Islam yang lebih unggul daripada Kristen,” kata Ustadz Insan Mokoginta menceritakan kisahnya berpindah agama dari Kristen ke Islam.

Saat itu umur Ustadz Insan baru 31 tahun. Tahun 1980 itu ia berkenalan dengan seorang anggota polisi yang taat agamanya, namanya Letnan Dua (polisi) Warubayarub. “Ia polisi yang sangat taat dalam menjalankan syariat Islam. Terakhir dia pangkatnya mayor dan sudah meninggal dunia ,” kata Pak Insan – panggilan akrabnya – mengisahkan perjalanan hidupnya. Pak Insan memutuskan hijrah dari kota kelahirannya ke Jakarta tahun 1978.

“Saya menjadi muslim (mengucapkan syahadat) di Masjid al Muqarrabin asrama polisi Brimob Kelapa Dua Depok tahun 1980,” terang laki-laki kelahiran Kota Boolang Mongondow, Sulawesi Utara ini. Setahun kemudian ia menikah dengan gadis pujaan hatinya.

Pak Insan mulai karir hidupnya dengan menjadi tukang kayu (pembuat mebel) di asrama polisi itu. Pekerjaan itu dilakoninya sambil jualan kecil-kecilan dan menyewakan komik Kho Ping Hoo dan lain-lain. Ia pertama kali di Depok menumpang pada Rida Doutolong (Resimen Pelopor).

Pemberian buku Ahmad Deedat dari Warubayarub kepadanya, membuatnya mulai membandingkan Injil dengan Al Quran. “Untuk menjadi pengikut Yesus yang baik dan benar harus masuk Islam,” terangnya kepada Warta Pilihan. Ajaran Yesus yang benar, sebagaimana Islam, mengatakan babi haram, tapi mereka makan. Orang Islam harus Sunat, mereka nggak. Yesus menyuruh umatnya menyembah Allah, tapi mereka malah menyembah Yesus.

Sambil menekuni buku-buku Ahmad Deedat, laki-laki kelahiran 8 September 1949 ini mengembangkan bisnisnya dengan mendirikan toko bangunan (material). Ia kemudian membeli tanah di dekat Brimob dan mendirikan toko elektronik miniglodok.

Tahun 1994, ia pergi haji. Pulang dari tanah suci, kemudian ia menulis buku Dialog Rasional Islam Kristen jilid 1, 2 dan 3. Buku itu ia cetak sendiri dan sebarkan ke keluarga besarnya baik yang beragama Islam maupun Kristen.

Tahun 1998, ia menulis buku menjawab brosur-brosur berwajah Islam dari pendeta Suradi ben Abraham.

Tahun 1999, ia membuat FAKTA (Forum Antisipasi Kegiatan Pemurtadan) dengan Abu Deedat, Mulyadi, Ramli Nawae dan lain-lain.

Tahun 2003, ia terjun ke dunia dakwah dan menyerahkan bisnis ke istri dan anaknya.

Ia pun sering berdebat dengan para pendeta lewat SMS (sebelum ada whatsapp). Ia pertama kali berdebat dengan pendeta Karsan dari Aceh. Ia juga pernah berdebat dengan Pendeta Gereja Gideon Brimbob Depok, Pendeta Freddy. Debatnya ini kemudian ia bukukan dengan nama Kontroversi Sabat dan Debat Quran vs Bible vis SMS.

Debatnya dengan Pendeta Purnamawinangun ia bukukan dengan judul buku Pendeta Menghujat, Mualaf Meralat.

Selain debat dengan SMS, ia pun menggelar debat terbuka yang dihadiri publik baik dari kalangan Islam maupun Kristen. Sekitar tahun 2004, ia bersama Arifin Nababan dan Yusuf Ismail berdebat dengan para pendeta Kristen : M Fatah, Yoshua dan kawannya. Debat itu dilaksanakan di Asrama Haji Pondok Gede dan dihadiri lebih kurang 200 orang. “VCD debat ini dicetak berjuta-juta keping dan ini rekor VCD penjualan terbanyak,”terang peraih Mualaf Award enam kali ini.

Ia dan kawan-kawannya pun pernah berdebat dengan pendeta Syaifudin Ibrahim yang kini ditahan polisi (tahun 2013, 2014, dan 2015). Saat itu dirinya, Arifin Nababan dan Kainama berdebat dengan pendeta Syaifudin Ibrahi, Yoshua Tewu dkk. Debat dilakukan di Gedung Sinar Kasih, Cawang dengan penonton sekitar 300 orang. Debat itu diberi judul : Yesus 100% Tuhan atau 100% manusia?

Ia pun pernah berdebat dengan pendeta Yoshua, dengan judul : 101 Bukti Yesus Bukan Tuhan vs 1001 Bukti Yesus Tuhan. Perdebatannya dengan pendeta Yochanan Johny Mema tahun 2015, membuat pendeta ini masuk Islam dan setahun kemudian disusul anaknya.

Kini kegiatan dakwah Ustadz Insan –khususnya tema Kristologi- sangat padat. Hampir tiap hari ia mendapat undangan dakwah ke seluruh penjuru tanah air. Bahkan di masjid-masjid kampus ia pun pernah singgahi. Mulai dari masjid Kampus Salman ITB, masjid UI, masjid IPB, masjid ITS dan lain-lain. “Saya pernah juga diundang di universitas Wollongong Australia, kampus MARA Malaysia, Hongkong dan Singapura,” paparnya dengan wajah bangga.

Kini lebih dari 50 buku tentang Kristologi ia tulis, Apa motivasi dakwah laki-laki enerjik dan pengusaha ini? “Saya ingin meyakinkan bahwa Nabi-Nabi selain Rasulullah Muhammad saw adalah nabi-nabi lokal, perundangannya sudah selesai. Digantikan Nabi Muhammad yang diutus bukan hanya untuk orang Arab, tapi untuk alam semesta,”terangnya.

Dalam surat Saba ayat 28 dijelaskan : “Dan kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan kepada semua umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” Dan dalam surat Al Anbiya 107, Allah SWT menjelaskan : “Dan tidaklah Kami mengutusmu (Muhammad), kecuali untuk rahmat alam semesta.”

21-22 Juli 2018 lalu di Kabupaten Palu, merupakan pengalaman yang paling mengesankan bagi Ustadz Insan. Karena saat itu ia berhasil mensyahadatkan 25 orang. “Ini pengalaman terbesar saya. Karena biasanya hanya satu atau dua orang yang bersyahadat,”ucapnya.

20 Agustus 2020, saat shalat rawatib Magrib ustadz Insan meninggalkan kita. Hari Jumat dipilih Allah untuk memanggil hambaNya yang tercinta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here