‘Manusia Gerobak’ Mengejar Profesor

1079

Mengisi liburan panjang tahunan selama 40 hari, Udin Ahidin ikut temannya merantau ke Tangerang. Di sini ia menjadi kenek (asisten) tukang bangunan.

‘’Ini buat cari pengalaman saja, karena upahnya hampir semuanya buat ongkos dan makan,’’ ujarnya.

Musim liburan berikutnya, Udin memilih jadi pedagang asongan di perantauan. ‘’Prosedurnya lebih mudah, resikonya lebih kecil, dan pendapatannya lebih besar,’’ ia menjelaskan alasannya.

Selepas SMA, Udin coba kuliah. Pada 1996 ia mendaftar di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Kuningan, yang sekarang menjadi Universitas Kuningan (UNIKU). Udin diterima di Fakultas MIPA Biologi.

Menginjak semester ketiga, Udin memutuskan keluar dari kampus. ‘’Waktu saya habis untuk kuliah, sedangkan adik-adik perlu biaya makan dan sekolah,’’ ia mengemukakan alasan.

Udin lalu merantau ke Pasar Cikokol, Tangerang, untuk mengasong. Beruntung ia berjumpa dengan Kang Sunar, teman sekampungnya, yang membantunya memberi jalan.

Tapi, ia bingung harus tinggal di mana. Tak mungkin menumpang di kawannya itu. ‘’Kang Sunar menerima kedatangan saya, tapi nggak mungkin memberi tumpangan menginap. Karena ia tinggal di gerobak,’’ Udin menceritakan.

Ia lalu pergi ke Masjid Jami Mujahidin Tangsel. Usai sholat, ia curhat pada pengurus masjid. Intinya, butuh tumpangan barang seminggu sambil membantu jadi marbot. KTP dia serahkan sebagai jaminan.

Alhamdulillah, pengurus masjid percaya padanya. ‘’Ya sudah kamu tidur di mess marbot, jangan di ruang masjid. KTP simpan saja,’’ katanya pada Udin.

Merintis karier sebagai pengasong, Udin memulai dengan menjadi asisten pengasong senior dari Agen Toko Indah Sari, Tangsel. Lama-lama ia dipercaya untuk mengasong sendiri dengan modal pinjaman agen.

Dengan keuletan dan kecermatan kalkulasi dagang serta pembukuannya, usaha Udin berkembang. Tak lama jadi pengasong, ia sudah memiliki lapak tetap. Juga gerobak pribadi sebagai ‘’rumah’’-nya.

Toh, ia tak berpuas diri. Kedua adik perempuannya di kampung, memang bisa dia sekolahkan. Tapi, ‘’masa iya saya akan jadi manusia gerobak selamanya,’’ gugat Udin dalam hati pada dirinya sendiri.

Menikah bakal membuka pintu rejeki. Udin Ahidin percaya pada petuah guru ngajinya itu. Pada 1997, ia menikahi Icih Tarsih, gadis tetangga depan rumahnya di kampung.

Di kampung, keluarga sang istri sebenarnya siap membantu kehidupan Udin. Namun, pria ini tak mau lama-lama bergantung pada kebaikan mertuanya.

Pada 1999, Udin memboyong istrinya ke Pamulang. Pasutri ini menjadi ‘’manusia gerobak’’ di emperan ruko. Usaha mereka kian berkembang.

‘’Apa saja saya dagangin. Misalnya kalau mau natalan dan tahun baru, apa yang laku. Mau Idul Adha, saya jualan kambing, gitu. Pernah juga saya dagang kotor, jualan minuman keras,’’ tutur Udin malu-malu.

Walau tak punya background keilmuan administrasi maupun akuntansi, Udin tertib membukukan cashflow usahanya. Membeli buku adalah salah satu pos pengeluaran wajibnya.

Ia menuturkan, ‘’Tiap minggu saya membeli buku bacaan. Buku apa saja, kadang buku agama di emperan Masjid Mujahidin. Kadang buku pengetahuan alam, juga buku motivasi.’’

Diam-diam, Icih memperhatikan kebiasaan suaminya. ‘’Kayaknya Akang masih semangat untuk belajar lagi,’’ Udin menirukan gumam sang istri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here