3 Sutradara Film dari Indonesia yang Mendunia di Tahun 1990-an

147

Jakarta, Muslim Obsession – Indonesia ternyata punya orang-orang hebat yang berkarier dalam dunia seni hiburan. Misalnya dalam dunia perfilman, Indonesia dulu sempat menjadi negara yang aktif memproduksi film untuk dikonsumsi bukan hanya dalam negeri, tapi luar negeri.

Tidak dapat dimungkiri jika keberadaan sutradara menjadi hal krusial dalam sebuah produksi film untuk bisa menghasilkan karya terbaik.

Beruntungnya, Indonesia memiliki jajaran sutradara film ternama dengan hasil karya yang menakjubkan, bahkan tak sedikit pula yang diakui keberadaannya sampai taraf internasional.

Siapa saja sutradara ternama Indonesia yang mendapat pengakuan dunia lewat karya yang dihasilkan? Berikut daftarnya.

1. Arifin Chairin Noer


Penerangan Republik Indonesia pada tahun 1983 @Festival Film Indonesia)
Merupakan sosok legendaris di industri perfilman tanah air, pria kelahiran Cirebon, 10 Maret 1941, ini rupanya sudah tertarik dengan bidang seni sejak duduk di bangku SMP. Dirinya diketahui aktif menulis cerpen, puisi, dan naskah sandiwara, yang aktif dikirim ke Radio Republik Indonesia (RRI) Cirebon.

Mengadu nasib ke Jakarta dan mendirikan teater kecil pada tahun 1968, Arifin lalu mengikuti International Writing Program ke Universitas Iowa, Amerika Serikat. Proyek film pertamanya adalah ”Rio Anakku” yang digarap bersama dengan sutradara Hasmanan di tahun 1973.

Karyanya yang paling dikenal dan mengundang kontroversi adalah ”Pengkhianatan G-30-S/PKI” yang dirilis pada tahun 1984. Di samping itu, ada banyak deretan film karya Arifin yang mendapat berbagai penghargaan Piala Citra di Festival Film Indonesia (FFI) pada tahun 1970-1990.

Ada satu film lagi yang memunculkan namanya sebagai sineas internasional, yakni film berjudul ”Pemberang”. Melaui film ini, Arifin dinobatkan sebagai penulis skenario terbaik di Festival Film Asia tahun 1972 dan mendapat piala The Golden Harvest.

Kemudian di tahun 1990, dirinya mendapat Penghargaan Penulis Asia Tenggara (SEA Write Award) berkat naskah drama yang ia tulis berjudul ”Sumur Tanpa Dasar”. Lima tahun sejak penghargaan Internasional tersebut, Arifin meninggal dunia di tahun 1995 karena penyakit kanker hati yang dideritanya.

2. Ami Priyono



Sosok bernama asli Lembu Amiluhur Priyawardhana Priyono ini lahir pada tahun 1939 di Jakarta–saat itu masih bernama Batavia. Pernah mengenyam studi tentang perfilman di Institut Sinematografi Gerasimov, Rusia, membuat Ami–sapaannya–berkarier menjadi seorang aktor dan sutradara film sekaligus di tanah air sejak tahun 1971.

Salah satu karyanya di tahun 1977 yang bertajuk ”Jakarta Jakarta”, memenangkan 5 Piala Citra sekaligus di ajang FFI tahun 1978. Tidak cukup sampai di situ, salah satu pengajar di SOAS, University of London, memberikan respons positif dan menggambarkan bahwa film tersebut sebagai gambaran menarik dari Jakarta sepanjang tahun 1970.

Menjelang akhir masa aktifnya sebagai sutradara, Ami acapkali menjadi juri pada beberapa festival film internasional, di antaranya Asia-Pacific Film Festival di tahun 1995 dan Fukuoka International Film Festival di tahun 1996.

3. Garin Nugroho



Pria kelahiran Yogyakarta, 6 Juni 1961, ini bukan hanya seorang sutradara melainkan juga seorang produser, dirinya sudah memiliki latar belakang perfilman setelah menempuh pendidikan Sinematografi di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan lulus pada tahun 1985.

Karier Garin di industri perfilman ternyata dimulai dengan menjadi kritikus dan pembuat film dokumenter. Tidak hanya film, dirinya juga menyutradarai video musik mulai tahun 1991 yang saat itu masih jadi hal baru di televisi Indonesia.

Meski begitu, sosok yang juga pernah menempuh pendidikan hukum di Universitas Indonesia ini nyatanya sudah langganan memenangkan penghargaan film Internasional sejak tahun 1990-an.

Film pertamanya yaitu ”Cinta Sepotong Roti” sukses mengantarkan Garin menjadi pemenang kategori Sutradara Pendatang Baru di penghargaan Asia-Pacific Film Festival pada tahun 1992.

Setelah itu, film keduanya pada tahun 1996 yang bertajuk ”Bulan Tertusuk Ilalang” membuat Garin diganjar 2 penghargaan FIPRESCI Prize Forum of New Cinema di ajang Berlin International Film Festival dan Sutradara Terbaik di penghargaan Festival des 3 Continents (Festival 3 Benua). (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here