3 Pesan Ali bin Abi Thalib Sebelum Meninggal

270

Jakarta, Muslim Obsession – Ali bin Abi Thalib adalah salah satu sahabat khulafaur rasyidin. Ia merupakan sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad Saw, istri dari Fatimah Az Zahra. Di akhir kehidupannya, Ali harus meninggal dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam pada bulan Ramadhan tahun 40 Hijriyah.

Pendiri Pusat Studi Alquran (PSQ), Prof M. Quraish Shihab dalam bukunya berjudul Kematian Adalah Nikmat menjelaskan ada sekian banyak pesan Sayyidina Ali yang dia sampaikan. Di antaranya ada tiga pesan penting.

Pertama, ia sampaikan untuk keluarganya. “Hai keluargaku, keluarga Abdul Muththalib. Jangan sampai kalian mengucurkan darah kaum Muslim dengan dalih bahwa Amirul Mukminin terbunuh! Jangan sekali-kali seorang pun terbunuh kecuali pembunuhku.”

Kedua, dia berpesan kepada putra tertuanya, Sayyidina al-Hasan. “Jangan sekali-kali mencincang si pembunuh. Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, Hati-hatilah, jangan mencincang, walau yang kamu bunuh adalah anjing gila.”

Sementara dalam riwayat lain menyatakan Sayyidina Ali berpesan:

“Wahai manusia, setiap orang pasti menemui (kematian) yang hendak dielakkannya dengan melarikan diri. Kematian adalah tempat di mana hidup menggiring kita ke sana. Melarikan diri darinya berarti menangkapnya (karena waktu yang digunakan berlari semakin memperpendek jarak pertemuan dengannya). Wasiat saya menyangkut Allah, adalah jangan sekali-kali mempersekutukan-Nya dengan sesuatu dan sedikit apa pun. Sementara menyangkut Nabi Muhammad saw, jangan mengabaikan sunnah dia. Peganglah pada kedua tiang itu dan nyalakan kedua lampu. Tiada keburukan akan menimpa kamu selama kalian tidak mengabaikannya. Hendaklah setiap orang memikul bebaannya, beban itu telah diperingan bagi orang-orang bodoh oleh Tuhan Maha Pengasih.

Agama (yang kita anut) lurus, sedang imam kita (yakni Rasulullah saw) sangat arif. Kemarin saya bersama kalian, hari ini saya menjadi pelajaran buat kalian dan esok saya akan meninggalkan kalian. Apabila kaki tetap kukuh di tempat yang licin ini, maka itulah pucuk cita dan bila ia tergelincir, maka itu karena ulah kita. Kita berada di bawah tudung awan yang lapis-lapisannya terserak di langit serta jejak-jejaknya lenyap di bumi sehingga wajar jika kita pun mengalami hal serupa (yakni meninggal dunia).

Saya adalah tetangga kalian, beberapa hari jasad saya menemani kalian, lalu kalian akan mendapatkan badan saya ditinggal oleh ruh, dia akan terdiam, tanpa gerak, membisu tak bersuara. Itu semua agar keterdiaman itu, ketiadaan kedip mata saya, kelumpuhan anggota tubuh saya, semua itu menasihati kalian. Itulah nasihat dan peringatan yang lebih unggul dari kalimat yang fasih, yang lebih mampu daripada ucapan apa pun yang dapat terdengar. Perpisahan saya dengan kalian adalah perpisahan seorang yang rindu menanti pertemuan (dengan kekasih). Besok kalian akan menilai hari-hari saya dan menyingkap tabir batin saya. Besok kalian akan mengenal saya setelaah kosongnya jabatan ini dan datangnya orang lain di tempat saya.” (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here