Ketika Dua Nabi Palsu Menikah

1048

Muslim Obsession – Nama Sijah At-Tamimiyah hampir tak dikenal dalam sejarah Islam. Padahal, Sijah menjadi tonggak kemunculan nabi palsu pasca wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sijah binti al-Harits bin Suwaid At-Tamimiyah nama lengkapnya, merupakan perempuan asal kabilah besar At-Tamimi yang mengaku menerima wahyu seperti halnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sejatinya, Sijah adalah seorang dukun perempuan, dimana saat itu dukun mendapatkan posisi terhormat di tengah masyarakat. Dukun menjadi tempat bertanya atas beragam masalah masyarakat ketika itu.

Namanya makin mendapat respon karena selain berprofesi sebagai dukun, Sijah juga berdarah biru. Ia berasal dari Bani Yarbu’ yang merupakan pembesar Bani Tamim.

Kisah Muslim melansir, ibu Sijah berasal dari Bani Taghlib dari Irak. Sebuah kabilah yang mayoritas masyarakatnya beragama Kristen karena kontak mereka dengan wilayah Eufrat. Sijah adalah pemimpin mereka. Ia menikah dengan klan ini. Dan ia juga seorang Nasrani sama seperti mereka (Ath-Thabari: Juz 3 Hal 272).

Bani Tamim adalah kabilah besar Arab yang bertetangga dengan Bani Amir di sebelah selatan. Kota Madinah di sebelah timur. Mereka juga tersebar di Teluk Arab hingga di tepian utara Sungai Eufrat. Dan cabang-cabang kabilah ini memiliki ladang gembala yang terbentang hingga bagian tengah Eufrat.

Bani Tamim memiliki kedudukan terhormat di tengah kabilah-kabilah Arab. Baik di masa jahiliyah maupun di masa Islam. Mereka dikenal pemberani dan dermawan. Lahir dari rahim mereka para penyair dan pahlawan. Sehingga mereka dijuluki qalb al-muluk (jantung para raja) (Ath-Thabari: Juz 3 Hal 116).

Sijah menyatakan kenabiannya setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. Dalam hal ini, ia menjadi teladan orang-orang setelahnya yang turut mengaku nabi. Motivasi pengakuannya ini adalah fanatik suku dan cinta popularitas.

Hudzail bin Imran dari Bani Taghlib menyambut seruan wanita ini. Ia rela meninggalkan agama lamanya, Nasrani. Namun, di tengah kaumnya sendiri dakwah nabi palsu ini tidak banyak disambut.

Ketika Sijah tiba di wilayah Hizn, ia mengajak orang-orang Tamim untuk bersekutu. Sijah pun bergembira dengan sambutan pimpinan Bani Malik, Waki’ bin Malik, dan pimpinan Bani Yarbu’, Malik bin Nuwairah (Ath-Thabari: Juz 3 Hal 115).

 

Bertemu Musailamah Al-Kadzab

Ketika Sijah putus asa untuk mendapatkan dukungan kaumnya, ia pun mengarahkan harapannya ke Yamamah. Di sana terdapat nabi palsu lainnya, Musailimah al-Kadzab, yang juga ingin memerangi Madinah.

Dakwah Musailimah lebih populer di seantero Arab dibanding Sijah. Namun, kehadiran Sijah di Yamamah membuat Musailimah khawatir kalau wanita ini bakal mengganggunya dalam memerangi Abu Bakar radhiallahu ‘anhu. Sementara pasukan Islam tengah bersiap menyerangnya. Dan kabilah-kabilah tetangga juga tengah menekannya.

Oleh karena itu, ia berusaha mencairkan keadaan dengan mengajak Sijah bernegosiasi. Selama tujuan mereka satu, yaitu menyerang Hijaz, tak perlu ada perpecahan di antara mereka. Negosiasi tersebut menghasilkan tiga keputusan.

Pertama, memperkuat kerja sama mereka dengan pernikahan. Kedua, menyatukan kekuatan mereka untuk menghadapi umat Islam dan menguasai Jazirah Arab. Ketiga, Musailmah menjanjikan setengah hasil bumi Yamamah untuk Sijah (ath-Thabari: Juz 3 Hal 273-275).

Resepsi pernikahan dua nabi palsu ini pun dilangsungkan. Sijah tinggal bersama Musailimah selama tiga hari (al-Balkhy: Juz 2 Hal 198). Setelah itu ia kembali menuju kaumnya tanpa sebab yang jelas.

Ia membawa setengah hasil bumi sebagaimana yang sudah disepakati. Ia tinggalkan Musailimah sendirian menghadapi singa-singa Islam. Musailimah tewas di kampungnya Yamamah.

Setelah dari Yamamah, Sijah tinggal bersama kaumnya, Bani Taghlib. Kemudian ia memeluk Islam dan tinggal di Basrah. Ia hidup sebagai seorang muslimah hingga wafat pada tahun 55 H/675 M (Atha-Thabari: Juz 3 Hal 275).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here