2 Alasan Raja Abrahah Menyerang Ka’bah

161

Jakarta, Muslim Obsession – Saat kecil kita sering memdengar cerita tentang sosok Raja Abrahah yang dikenal kejam. Ia ingin sekali menghancurkan Ka’bah di Kota Makkah dengan pasukan gajah.

Namun usahanya itu tidak berhasil setelah rombongan burung Ababil menjatuhkan krikil neraka ke pasukan gajah yang dipimpin Abrahah. Mereka tewas seketika karena tak kuat menahah panasnya bara api neraka.

Peristiwa ini diperkirakan terjadi pada tahun 570 atau 571 Masehi, sesuai dengan tahun kelahiran Nabi Muhammad yang banyak diyakini. Oleh karenanya, tahun itu dinamakan Tahun Gajah (‘aam fiil).

Cerita tentang pasukan Abrahah itu pun dikisahkan dalam Al-Quran Surat Al-Fil (Gajah) 5 ayat:

اَلَمۡ تَرَ كَيۡفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِاَصۡحٰبِ الۡفِيۡلِؕ

1. Tidakkah engkau (Muhammad) perhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah?

اَلَمۡ يَجۡعَلۡ كَيۡدَهُمۡ فِىۡ تَضۡلِيۡلٍۙ

2. Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka itu sia-sia?

وَّاَرۡسَلَ عَلَيۡهِمۡ طَيۡرًا اَبَابِيۡلَۙ

3. Dan Allah mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong,

تَرۡمِيۡهِمۡ بِحِجَارَةٍ مِّنۡ سِجِّيۡلٍ

4. Yang melempari mereka dengan batu dari tanah liat yang dibakar,

فَجَعَلَهُمۡ كَعَصۡفٍ مَّاۡكُوۡلٍ

5. Sehingga mereka dijadikan-Nya seperti daun-daun yang dimakan (ulat).
123

Lantas, apa motif sebenarnya yang membuat Abrahah begitu menggebu menyerang kakbah dan Kota Makkah?Setidaknya ada dua hal melatarbelakangi.

1. Tidak mau tersaingi dengan Ka’bah

Abrahah semula adalah seorang perwira di bawah komando Aryath dari Habasyah atau Abessinia (sekarang Ethiopia). Singkat cerita, Aryath berhasil menjadi penguasa Yaman setelah mengalahkan Raja Dinasti Himyar, Dzu Nuwas.

Karena Aryath sewenang-wenang dan tidak adil dalam memerintah, maka terjadilah pemberontakan di bawah Abrahah. Aryath terbunuh setelah dua tahun pemerintahannya dan Abrahah menjadi penguasa Yaman.

“Sebagai seorang raja, Abrahah menjadi tokoh penting dalam penyebaran agama Kristen di wilayah Arab Selatan,” tulis sejarawan Philip Khuri Hitti dalam History of The Arabs: From the Earliest Times to the Present (2002).

Abrahah berambisi ingin menyebarkan agama Kristen di seluruh jazirah Arab. Maka untuk menarik perhatian masyarakat Arab, ia bangun sebuah katedral bernama Al Qulays yang dibangun di atas reruntuhan kota Ma’arib yang disebut gereja terbesar di masa itu.

Dalam al Mufashal fi Tarikh al Arab Qabla al Islam (1968), sejarawan Jawwad Ali membeberkan struktur bangunan al Qulays yang begitu megah. Al Qulays, tulis Ali, memiliki pintu yang terbuat dari tembaga murni setinggi 10 hasta dan lebar 4 hasta.

“Lorong masuk dari pintu ke bagian dalam berukuran 8×40 hasta, dengan tiang-tiang yang digantungi pagar berukir dan berpaku dari emas dan perak,” tulis Ali.

Dengan keindahan al Qulays, Abrahah betul-betul percaya diri bahwa simbol yang dibangunnya bakal mengundang decak kagum banyak pihak dan membuat tertarik orang-orang untuk mengunjunginya. Sehingga orang berdoyong-doyong memuja Al Qulays.

Namun sayangnya upaya itu tidak berhasil. Di seberang negeri yang Abrahah banggakan, Ka’bah masih menjadi bangunan yang paling diminati masyarakat Arab untuk diziarahi.

Sudah sejak lama, Kota Makkah menjadi penting secara sosial, ekonomi, politik, dan keagamaan akibat keberadaan bangunan yang dipugar di masa Nabi Ibrahim dan putranya itu.

Tidak putus asa, Abrahah terus menggencarkan propaganda bahwa keberadaan Al Qulays jauh lebih suci dan agung ketimbang ka’bah. Orang-orang yang mendengarnya, bahkan setengah muak.

Sampai suatu hari Abrahah menemukan kotoran yang dilempar seseorang tak dikenal ke dinding bangunan andalannya itu. Tentu, ia marah, dan langsung menuding bahwa itu adalah perbuatan orang Makkah.

Pembisik Abrahah menuduh pelakunya adalah dari Bani Kinanah, atau suku Quraisy yang notabene sebagai penjaga Ka’bah dan kota Makkah.

“Sontak Abrahah murka. Ia bersumpah akan menjadikan Ka’bah dan Quraisy hingga rata dengan tanah,” tulis Ali.

2. Motif politik

Sejarah lain menuturkan, pelemparan kotoran ke dinding al Qulays dan rasa iri terhadap keramaian Makkah bukanlah sebab utama atas serangan milter yang terjadi pada 570 M tersebut.

Kemarahan Abrahah murni karena motif politik akibat tak kunjung berhasil menghubungkan wilayah Habasyah dan Romawi via Semenanjung Arab, selama Makkah dan Ka’bah tak lekas berhasil dikuasai.

“Faktor ini saya anggap lebih kuat karena memiliki motif yang sangat penting di antara berbagai rencana politik internasional kuno,” tulis Ali, masih dalam buku yang sama. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here