10 Terakhir Ramadhan Ala Rasulullah

653
Itikaf (Foto: Tribunnews)

Jakarta, Muslim Obsession – Menginjak sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, umat muslim biasanya meningkatkan intensitas dan kualitas ibadahnya. Karena sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan merupakan saat-saat yang penuh dengan kebaikan dan keutamaan, serta pahala yang berlimpah.

Tak jarang umat muslim begitu intensif menjalankan ibadah terutama di malam harinya agar bisa meraih keberkahan Lailatul Qadar. Kaum muslimin juga biasanya memaksimalkan ibadah di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dengan cara beritikaf dan atau berdiam diri di masjid, berdzikir serta memohon ampunan kehadirat Allah Swt.

“Sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, Rasulullah itikaf di masjid, tidak pulang ke rumah,” kata Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustadz Tengku Zulkarnain kepada wartawan, Senin (4/6/2018).

Ustadz Zulkarnain menerangkan, saat melakukan itikaf, Rasulullah makan, minum dan tidur di masjid. Jadi di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan setiap waktu penuh dengan aktivitas ibadah.

Ia menerangkan, diriwayatkan Rasulullah juga mengencangkan ikat pinggang saat itikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Mengencangkan ikat pinggang artinya Rasulullah tidak mencampuri istri-istrinya. Rasulullah meningkatkan ibadahnya serta fokus pada ibadahnya.

“Sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan) betul-betul fokus ibadah kepada Allah SWT di masjid, jadi (ibadahnya) tidak dilalaikan sedikitpun oleh hal-hal yang lain,” ujarnya.

Menurut Ustadz Zulkarnain, sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan merupakan puncak ibadah selama Ramadhan. Itu sebabnya di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, Rasulullah meningkatkan ibadahnya. Artinya di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sudah mendekati akhir Ramadhan.

Maka, umat Islam harus sungguh-sungguh melaksanakan ibadah untuk mencapai garis finish dengan sebaik-baiknya. Rasulullah juga mengisyaratkan di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan ibadahnya semakin semangat.

“(Saat melakukan itikaf) kita merasakan kebesaran Allah SWT, kita meninggalkan anak dan istri di rumah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, lebih mencintai Allah SWT daripada segenap isi dunia ini,” jelasnya. (Bal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here