Tentang Salim A. Fillah

159
Ustadz Salim A. Fillah

Muslim Obsession – Salim A. Fillah dikenal sebagai penulis muda yang piawai memadukan dalil dengan kisah, norma dengan hikmah, dan membingkainya dalam nuansa sastra yang indah.

Ada keberanian kata dalam tulisannya untuk tak selalu membaku, namun justru menjadi kekhasan rasa penuh makna. Gaya bertuturnya melompat lincah, meliuk, cepat, kadang mengalun syahdu, dan membuat pembacanya merasa diajak berbicara serta terlibat dengan gagasan-gagasannya.

Menulis merupakan rihlah jiwa baginya di sela bergiat sebagai pengkhidmah kajian Majelis Jejak Nabi di beberapa kota, relawan sahabat Al-Aqsha, Pengasuh Pesantren Masyarakat Merapi Merbabu, serta anggota Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia.

Perjalanannya masuk ke dunia menulis sudah dimulai sejak ia kecil, tepatnya ketika duduk di kelas 5 SD. Ketika itu, Ibunya membawanya ke sebuah toko buku di awal tahun ajaran. Maksudnya, tentu untuk berbelanja buku pelajaran dan alat tulis sebagaimana lazimnya anak lain.

Namun, karena sang Ibu ada kepentingan lain, ia meninggalkan Salim A. Fillah kecil, di toko buku. Dengan uang yang pas untuk membeli semua keperluan tahun ajaran baru. Saat ibunya kembali, ia hanya bisa geleng-geleng kepala.

Karena, Salim A. Fillah justru membeli buku-buku yang sama sekali tidak nyambung dengan anak kelas 5 SD. Yang ada di keranjang belanja justru buku sejarah, biografi tokoh, filsafat, dan psikologi. Sang ibu saat itu hanya terkejut dan berkata, “Masyaallah!”. Setelah sampai di rumah, sang ayah juga hanya tertawa-tawa.

Selepas SMP, yang juga berarti selepas ia lulus dari pesantren, ia baru mulai berani menyusun kata-kata. Ketika itu, selalu saja ada yang menyatakan kalimat-kalimat yang ia buat itu unik, tapi itu artinya tak baku dan tak bisa diterima.

Di saat seperti itu, sang ayah sekaligus seorang guru Bahasa Indonesia di sebuah SMA, selalu membesarkan hatinya. “Bahasa itu kesepakatan”, katanya.

Karenanya, Salim A. Fillah selalu ingat nasihat tersebut. Menurutnya, jika penyampai dan penerima telah memahaminya, maka bahasa itu baik dan benar.

Sebenarnya cita-citanya ketika ia masih kecil itu terbilang klise dan muluk, yaitu menjadi orang yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama. Beranjak waktu, saat dirinya duduk di bangku SMA ia mulai sadar. Ada peran yang harus ia ambil secara spesifik kalau ingin betul-betul berguna.

Menurutnya, selain kesibukan berorganisasi yang membuatnya jarang menatap mentari dari rumah, salah satu yang luas jangkauan manfaatnya adalah menulis. Kemudian, selama SMA itu, ia cukup banyak menghasilkan tulisan.

Tidak hanya itu, ia mengikuti aneka lomba kepenulisan. Ada lomba karya tulis ilmiah, penulisan artikel lepas, lomba esai, lomba cerpen—termasuk LMCPI-nya Annida—sayembara novel, dan lainnya.

Hampir setiap informasi lomba yang datang ke sekolah, ia coba untuk mengikutinya. Sayangnya, Salim A. Fillah mengaku kalau sampai sekarang belum pernah ada yang menang sama sekali.

Ia juga mencoba mengirimkan berbagai tulisan ke media. Ada artikel-artikel lepas, ada opini, ada puisi, ada cerpen. Lagi- lagi hingga sekarang tak satu pun pernah dimuat sama sekali. Maka hingga saat itu, tulisannya hanya menjangkau teman-teman sendiri; lewat buletin yang ditulis sendiri, diset dan di-layout sendiri, diperbanyak sendiri, dan diedarkan sendiri.

Mungkin semangat yang ada di sanalah, yang akhirnya mengantarkan tulisan-tulisan itu pada sosok Muhammad Fanni Rahman. Ia dianggap sebagai kakak bagi Salim A. Fillah, yang Allah pertemukan dengannya di aktivitas dakwah remaja masjid se-Kota Yogyakarta.

Dari sanalah, dari tulisan-tulisan yang ia hasilkan. Akhirnya menjadi salah satu pemantik kecil yang membawa dirinya pada sebuah keputusan penting. Yakni mendirikan Penerbit Pro-U Media.

Buku pertama Salim A. Fillah adalah juga buku pertama Pro-U Media. Baginya, saat  menuliskan buku Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan adalah kenikmatan berbagi rasa; menerbitkannya di Pro-U adalah ujian untuk percaya bahwa dari sekecil apa pun, Allah akan memberkahi tiap ikhtiar dakwah.

Bahkan, Salim A. Fillah menangis ketika launching buku tersebut di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, yang dihadiri lebih dari 2000 orang. Ia merasa, dengan membersamai Pro-U membuatnya merasa menjadi bagian dari sebuah cita-cita besar. Yaitu tidak hanya menerbitkan buku, melainkan juga menerbitkan harapan akan kebangkitan Islam.

Kaya keberkahan

Dari perjalanan menulis selama ini, ia semakin tahu, tak ada kendala berarti kecuali apa yang ada di dalam jiwa kita. Dulu saat ia masih meminjam komputer pamannya dan mengetikkan tulisan di rental, ia merasa sepertinya akan lebih produktif jika memiliki komputer sendiri.

Namun, begitu memiliki komputer sendiri, ternyata sama juga. Saat itu ia lalu berpikir, jika punya laptop dan lebih mobile, Insyaallah lebih produktif. Begitu notebook dimiliki, rasanya sama juga.

Sekali lagi ia menyadari, kendala menulis letaknya bukan di fasilitas, melainkan di dalam jiwa kita. Kita berlindung kepada Allah dari jiwa yang lemah untuk menyampaikan kebenaran, dari hati yang bungkam untuk mencegah kejahatan.

Karena itu, semua hal harus disyukuri. Alhamdulillah, katanya, menulis itu rasanya berkah. Dengan menulis ia bisa menyapa ribuan manusia; tak sekadar sapa, tapi sapaan dakwah. Dengan menulis ia merasa bisa bersilaturahim ke pelosok negeri ini.

Merasa begitu kaya karena banyak saudara yang kemudian menunjukkan kepedulian dengan saran, masukan, kritik, bahkan cerca, dan kecaman. Semua baginya adalah jalan untuk memperkaya jiwa. Mereka menunjukkan kelebihan maupun kekurangan diri yang tak akan ia sadari tanpa respon mereka.

Dengan menulis ia merekam jejak-jejak pemahaman dirinya. Suatu proses mengikat ilmu, lalu melihatnya kembali untuk—sesekali—menertawakannya. Dan saat ia telah bisa menertawakan kebodohannya beberapa waktu lalu, yang tercermin dari tulisannya ketika itu, ia jadi tahu dan bersyukur kalau ia telah mengalami sedikit kemajuan. (Vina – Sumber: Blog Salim A. Fillah)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here