Teguran Allah Kepada Nabi Ibrahim

682
Ilustrasi Orang Sedang Bersujud Kepada Allah

Muslim Obsession – Nabi Ibrahim dikenal sebagai seorang yang dermawan. Dia membiasakan diri untuk tidak makan sendiri, tanpa mengundang seorang tamu untuk menemaninya.

Saat tidak ada seorang pun yang bertamu kepadanya, biasanya ia akan berdiri di tengah jalan dan mengundang setiap musafir yang sedang lewat untuk makan bersamanya.

Suatu hari, seorang kafir melewati jalan di depan rumah Nabi Ibrahim. Beliau mengundang orang itu ke rumahnya. Ketika hendak menyantap hidangan, Nabi Ibrahim mengucapkan kalimat basmalah.

Ia pun meminta tamunya mengucapkan kalimat basmalah sebelum mengulurkan tangannya untuk mengambil makanan.

Orang kafir itu sontak berkata, “Sungguh, aku tidak mengenal Tuhan. Aku tidak perlu menyebut nama-Nya sebelum makan.”

Hal itu tentu membuat Nabi Ibrahim terkejut.

“Kalau begitu, pergilah dari rumahku ini,” ujar Nabi Ibrahim.

Tamunya pun segera bangkit dan pergi meninggalkan rumahnya. Kemudian, pada saat itu Allah segera menegur Nabi Ibrahim, “Wahai Ibrahim, mengapa engkau mengusir tamumu? Sungguh, Kami telah memberi rezeki dari sisi Kami selama tujuh puluh tahun. Kami alirkan rezekinya melalui tanganmu, tetapi engkau justru mengusirnya.”

Nabi Ibrahim merasa sangat menyesal dengan apa yang telah ia lakukan. Ia pun segera menyusul dan berlari mengikuti jejak orang kafir itu. Setelah bertemu, Nabi terus memaksanya untuk kembali ke rumahnya lagi.

“Aku tidak akan kembali lagi ke rumahmu selama engkau tidak memberi tahuku alasanmu membuntutiku dan memintaku kembali ke rumahmu,” ujar orang kafir itu.

Kemudian Nabi Ibrahim memberitahukan teguran Allah yang baru saja ia terima. Orang kafir itu merasa malu dan berkata, “Celakalah aku! Selama ini, aku melupakan Tuhan yang seperti ini. Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang dan aku telah kafir kepada-Nya,” tutur orang kafir itu dengan penyesalan.

Setelah kejadian itu, atas izin Allah Swt. orang kafir itu mengumumkan keimanannya kepada Allah Swt.

Wallahu A’lam bish Shawab. 

(Vina – Dinukil dari buku “Jika Aku Masih Hidup Esok Pagi” karya A. Dastghib)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here