Sukarno-Natsir, Bertengkar dan Bersahabat

87

Oleh: Lukman Hakiem (Peminat Sejarah)

Di antara banyak tokoh pendiri Republik, tentu mustahil mengabaikan dua tokoh: Ir. Sukarno (1901-1970), dan Mohammad Natsir (1908-1993). Kedua tokoh ini sama-sama dibesarkan dalam suasana pendidikan di kota Bandung. Sukarno belajar di  Technische Hoge School (THS, sekarang Institut Teknologi Bandung). Natsir belajar di Algemene Midelbare School (AMS, sekarang Sekolah Menengah Atas). Di Bandung ini pula, Soekarno dan Natsir bertemu dengan mentor agama, seorang puritan: Ustadz Ahmad Hassan (1887-1957).

Di Bandung pula, kecenderungan politik kedua tokoh semakin terlihat. Pada 1927, Sukarno mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) dengan visi dan misi yang sangat jelas: mendirikan negara nasional yang memisahkan urusan agama dari urusan negara.

Soekarno Memuji Natsir

Ketika hubungannya dengan A. Hassan makin intens, Natsir makin kehilangan selera untuk melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi. Dengan nilai kelulusan yang sangat baik, Direktur AMS memberi tahu Natsir bahwa anak muda itu memiliki peluang melanjutkan pendidikan ke Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta atau ke Fakultas Ekonomi di Belanda. Natsir dapat masuk ke dua sekolah tersebut tanpa test dan mendapat beasiswa siswa. Peluang lain ialah menjadi pegawai negeri dengan gaji per bulan 130 gulden. Penghasilan yang lebih dari cukup untuk seorang bujangan di masa itu.

Entah mengapa, semua peluang itu tidak menarik minat Natsir sama sekali. Dia merasa ada satu lapangan yang lebih strategis untuk ditekuni. Natsir ingin berkhidmat kepada Islam! Natsir melihat, perhatian generasi muda kepada agama Islam amat rendah. Natsir melihat, anak-anak muda itu, meskipun beragama Islam, tidak bangga dengan kemuslimannya. Maka, tanpa ragu Natsir terjun ke lembaga pendidikan. Anak muda itu mengajar agama Islam di sekolah dasar dan di sekolah menengah  pertama. Natsir sungguh-sungguh serius memasuki dunia barunya itu.

Kelak Natsir mendirikan lembaga pendidikan yang dia beri nama Pendidikan Islam (Pendis). Untuk kepentingan mengajar itu, Natsir menulis buku dalam bahasa Belanda, antara lain: “Komt Tot Het Gebed“. Belakangan sekali buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berjudul “Marilah Shalat”. Natsir menulis buku itu saat masih duduk di kelas terakhir AMS.

Natsir juga menulis buku bersifat polemis menanggapi ceramah Dr. Christoffel. Buku itu berjudul “Quran en Evangelie” dan “Muhammad als Profeet”. Karya tulis Natsir itu rupanya menarik perhatian Sukarno. Dari tempat pengasingannya di Ende, dalam surat kepada pemimpin Persatuan Islam (Persis) A. Hassan pada 25 Januari 1935, Soekarno antara lain menulis: “Haraplah sampaikan saya punya komplimen kepada Tuan Natsir atas ia punya tulisan-tulisan yang memakai bahasa Belanda. Antara lain ia punya inleiding di dalam ‘Komt Tot Het Gebed‘ adalah menarik hati.” Masih dari Ende, dalam surat tertanggal 22 April 1936, Sukarno berpesan kepada Tuan Hassan: “Alangkah baiknya kalau Tuan punya mubaligh-muballigh nanti bermutu tinggi, seperti Tuan M. Natsir, misalnya!”

Sesudah Indonesia merdeka, ketika Perdana Menteri Sutan Sjahrir mengajukan Natsir menjadi Menteri Penerangan, Presiden Sukarno berkata: “Hij is de man (dialah orangnya).” Kelak, sesudah dengan Mosi Integral Natsir berhasil memulihkan dan terbentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), ketika ditanya wartawan Asa Bafagih, siapa yang akan ditunjuk menjadi perdana menteri, Presiden Sukarno menjawab: “Siapa lagi kalau tidak dari Masyumi?”
“Natsir?”, bertanya lagi Asa Bafagih.
Presiden Sukarno menjawab tegas: “Ya! Mereka mempunyai konsepsi untuk menyelamatkan Republik melalui konstitusi.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here