Rasulullah Bertemu Utusan Allah Saat Isra Mi’raj

263
Isra Mi'raj (Foto: Tribunnews)

Jakarta, Muslim Obsession – Pada malam 27 Rajab tahun ke-10 kenabian, Nabi Muhammad SAW dijemput malaikat Jibril dan Buraq untuk melakukan perjalanan Isra dan Mi’raj untuk menerima perintah shalat dari Allah SWT. Perjalanan yang ditempuh dalam satu malam itu disebut-sebut sebagai pelipur lara untuk Rasulullah SAW yang ditinggal wafat dua orang yang paling dicintainya, istrinya, Khadijah RA, dan pamannya, Abu Thalib.

Rasulullaah berangkat dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, bahkan Rasulullaah pun naik ke langit ke tujuh untuk bertemu dengan Allah SWT. Dari perjalanan Isra’ Mi’raj tersebut lah, Allah menurunkan perintah shalat fardhu, yang awalnya berjumlah 50 kali dalam sehari, kemudian menjadi 5 kali dalam sehari karena Allah yang begitu mencintai hambaNya, dengan tidak ingin memberikan yang berat bagi mereka.

Sebelum bertemu Allah SWT, dalam perjalanan menuju Sidaratil Muntaha Rasulullah dipertemukan dengan beberapa utusan Allah SWT terdahulu. Nabi Adam AS mendapat kesempatan pertama bercengkerama dengan keturunan terbaiknya di langit pertama. Pertemuan ini dilatarbelakangi oleh posisi Nabi Adam AS sebagai manusia pertama sekaligus leluhur pertama Nabi Muhammad SAW. Hal ini sebagai bentuk manifestasi relasi beliau dengan leluhur dalam perjalanannya menuju maqam yang luhur. Selain itu, pertemuan ini juga sebagai isyarat akan terjadi sesuatu pada Nabi Muhammad saw yang dahulu juga pernah menimpa Nabi Adam AS.

Dahulu Nabi Adam AS terusir dari surga hingga diturunkan ke bumi, sedangkan Nabi Muhammad SAW nantinya akan terusir dari Makkah hingga akhirnya beliau hijrah ke Madinah. Kesulitan yang dialami keduanya adalah terpisah dari tanah airnya, yang menjadi saksi tumbuh-kembangnya. Namun pada akhirnya, keduanya akan kembali ke tempat asalnya, Nabi Adam AS kembali ke surga dan Nabi Muhammad SAW kembali untuk menaklukkan Makkah.

Selanjutnya Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Isa AS dan Nabi Yahya AS di langit kedua. Pertemuan ini merupakan suatu isyarat bahwa Nabi Muhammad SAW akan mengalami ujian seperti halnya Nabi Isa AS dan Nabi Yahya AS. Nabi Isa pernah hendak dibunuh oleh kaum Yahudi hingga akhirnya diangkat oleh Allah SWT ke langit. Selain itu sahabatnya yang berkhianat diserupakan wajahnya untuk kemudian ditangkap dan disalib oleh kaum Yahudi.

Sedangkan Nabi Yahya AS, seperti yang kita ketahui, menjadi korban kekejaman kaum Yahudi hingga akhirnya wafat. Beberapa abad kemudian, kisah yang hampir mirip dengan pelaku sejenis juga akan menimpa Nabi Muhammad SAW. Pada tahun 2 Hijriyah, kaum Yahudi sangat memusuhi dan ingin menyakiti beliau. Kemudian mereka berniat menyakiti beliau dengan batu besar, namun Allah SWT melindungi dan menyelamatkan beliau dari gangguan kaum Yahudi.

Di samping itu, ada kemiripan kisah kaum Anshar pada masa Nabi Isa AS maupun Nabi Muhammad SAW. Ketika Nabi Isa AS membutuhkan bantuan, kelompok hawariyyun tersebut dengan sigap menyatakan bahwa mereka adalah Ansharullah (penolong Allah). Begitupun dengan kisah Nabi Muhammad saw yang meminta bantuan kaum Anshar menjelang perang Badar dan mereka menyanggupinya dengan sepenuh jiwa dan raga.

Kemudian Nabi Yusuf AS mendapat giliran bertemu dengan Nabi Muhammad SAW di langit ketiga. Kisah sandiwara terbunuhnya Nabi Yusuf AS oleh saudara-saudaranya juga terjadi pada Nabi Muhammad saw ketika perang Uhud tahun 3 Hijriyah yang berakhir dengan kekalahan bagi umat Islam.

Nabi Yusuf AS yang dikabarkan terbunuh membuat Nabi Ya’qub sedih dan putus asa, begitupun Nabi Muhammad saw yang dikabarkan gugur di medan perang berdampak negatif pada semangat juang umat Islam. Pada akhirnya, beberapa tahun kemudian Nabi Yusuf AS mampu mengungguli nasib saudara-saudaranya dan memaafkan mereka, sedangkan Nabi Muhammad SAW mampu menaklukkan Makkah dan memaafkan kaum kafir Quraisy.

Ketika Nabi Muhammad SAW sampai di langit keempat, beliau bertatap muka dengan Nabi Idris AS. Nabi Idris AS adalah orang pertama yang mengirim surat kepada raja-raja pada masanya untuk menyembah Allah SWT, namun ternyata ajakan tersebut ditolak. Pada tahun 4 Hijriyah, Nabi Muhammad SAW juga mengirim surat kepada raja-raja pada masanya untuk masuk Islam. Beliau mengajak Heraklius, Muqauqis, Najasy, dan Kisra untuk beriman kepada Allah SWT, meskipun mendapat respon berbeda dari masing-masing raja. Kesamaan metode dakwah inilah yang akhirnya mempertemukan keduanya di langit keempat.

Selanjutnya Nabi Harun AS berjumpa Nabi Muhammad SAW di langit kelima. Keduanya merupakan sosok yang dicintai oleh kaumnya dan paling fasih berbicara. Nabi Harun AS orang paling fasih berbahasa Ibrani, sedangkan Nabi Muhammad SAW tak diragukan lagi kefasihan bahasa Arabnya. Dikisahkan bahwa Nabi Harun AS pernah dipandang lemah oleh Bani Israel sepeninggal Nabi Musa AS bermunajat kepada Allah SWT.

Mereka memisahkan diri dari Nabi Harun AS, mengingkari janji dan menyembah sapi, serta berniat untuk memerangi dan membunuhnya. Kemudian Allah SWT memberikan pertolongan kepada beliau, hingga akhirnya mereka yang konon berjumlah 70.000 orang tidak mau bertaubat dibinasakan oleh Allah SWT dalam waktu sekejap. Kejadian yang sama dialami oleh Nabi Muhammad SAW pada tahun 5 Hijriyah. Bani Quraidhah yang tampak menghormati dan memuliakan Nabi Muhammad SAW ternyata malah mengkhianatinya sehingga meletuslah Perang Ahzab. Lalu beliau mengutus Sa’ad bin Muadz untuk memerangi mereka sehingga 700 orang dari Bani Quraidhah tewas.

Di langit keenam mempertemukan Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Musa AS. Keduanya memiliki sebagian pengikut yang masih takut dengan keganasan musuh. Tatkala Nabi Musa AS memerintahkan para pengikutnya untuk berperang agar dapat menegakkan syariat di Baitul Maqdis, mereka khawatir akan kekejaman kaum Jabbarin disana. Skenario Allah SWT membuat kaum Jabbarin binasa dan akhirnya Bani Israel dapat memasuki Baitul Maqdis dengan aman.

Nabi Muhammad SAW juga mengalami kisah serupa pada tahun 6 Hijriyah. Dalam Perang Tabuk, beliau mendapat pertolongan dari Allah swt saat menaklukkan pasukan Daumatul Jandal. Selain itu, pada tahun tersebut beliau mendapat perintah untuk melaksanakan ibadah haji. Ketika akan memasuki Makkah, umat Islam dihadang oleh kaum kafir Quraisy sehingga terpaksa ditunda hingga tahun berikutnya. Beberapa tahun kemudian umat Islam berhasil menaklukkan Makkah dan dapat beribadah secara leluasa.

Sebelum mencapai Sidaratil Muntaha, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Ibrahim AS dalam keadaan sedang bersandar pada Baitul Ma’mur. Pertemuan ini semakin menegaskan posisi Nabi Muhammad SAW yang lebih tinggi dari Nabi Ibrahim AS, mengingat Nabi Muhammad SAW akan melanjutkan perjalanan menuju tempat yang jauh lebih tinggi. Hikmah pertemuan ini dibuktikan pada tahun 7 Hijriyah ketika Nabi Muhammad SAW beserta para sahabatnya sampai di Baitullah untuk melaksanakan umrah qadla’ dan menegakkan simbol-simbol peninggalan Nabi Ibrahim AS untuk menghidupkan sunnah yang sebelumnya telah mati pada masa jahiliyyah. (Bal/Berbagai Sumber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here