Muhammadiyah Alergi Budaya, Ini Tanggapan Haedar Nashir

35
Ketua Umum Muhammadiyah Haedar Nashir (Foto: Suara Muhammadiyah)

Yogyakarta, Muslim Obsession – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir menanggapi terkait anggapan masyarakat bahwa Muhammadiyah merupakan organisasi yang anti, dan bahkan alergi terhadap budaya.

Haedar menegaskan, anggapan tersebut merupakan sebuah pandangan yang salah. Bahkan sebaliknya, tegas Haedar, Muhammadiyah pada awal berdirinya telah melakukan kerja-kerja kebudayaan. Hal tersebut disampaikan dalam Seminar dan Diskusi Kebudayaan yang digelar di Grha Suara Muhammadiyah, Senin (2/7/2018).

Haedar menjaelaskan bahwa Muhammadiyah ketika mendirikan Suara Muhammadiyah pada tahun 1915, merupakan salah satu wujud dari aktualisasi kebudayaan.

“Awalnya, Suara Muhammadiyah berbahasa Jawa dan sejak 1923 mengembangkan bahasa Melayu. Ini bentuk kebudayaan. Kongres Pemuda (yang dianggap tonggak menjadikan bahasa Melayu/Indonesia sebagai bahasa persatuan) itu pada 1928, jauh sebelum itu, Suara Muhammadiyah memulai,” paparnya.

Haedar juga menjelaskan, bahwa sejak 1912, KH Ahmad Dahlan mempelopori pendidikan modern yang juga merupakan kerja kebudayaan. “Ketika mendirikan Aisyiyah pada 1917 dan Aisyiyah menjadi pelopor Kongres Perempuan juga merupakan kegiatan kebudayaan,” imbuhnya.

“Muhammadiyah dalam urusan akidah dan ibadah sesuai dengan yang digariskan oleh Quran dan Hadis,” tambahnya.

Selain itu, Haedar memberikan catatan bahwa Muhammadiyah juga perlu menyerap perubahan budaya yang begitu cepat, salah satunya penyebaran yang disebabkan realitas kemajuan teknologi dan media sosial.

“Kita mengalami digitalisasi. Alat-alat komunikasi menguasai kita, menjadikan kita seperti the modular man. Kita jangan sampai terserap atau tercerabut akar budaya dan habitat asli manusia oleh teknologi,” pungkasnya. (Bal)

 

 

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here