Masjid Jurra, Simbol Persatuan Penduduk Swat

54
Masjid Jurra (Foto: Dawn)

Mingora, Muslim Obsession – Masjid di desa Jurra bukan hanya tempat ibadah bagi penduduk setempat. Tetapi juga tempat beristirahat dan simbol warisan budaya penduduk Swat.

Swat itu sendiri adalah nama lembah. Konon, pernah ada kesepakatan masyarakat di sana untuk menerapkan hukum syariah di Lembah Swat. Letaknya berada di Provinsi Malakand Barat Laut Pakistan yang berjarak 160 km dari Islambad.

Berdiri di desa bersejarah Jurra di Matta tehsil, Masjid tersebut diperkirakan sudah berusia lebih dari seratus tahun. Masjid Jurra dibangun oleh sesepuh lokal yang dikenal sebagai Khan Bahadar.

Masjid itu terbuat dari batu, lumpur dan arsitektur kayu dengan ukiran kayu tradisional asli dari Swat. Meski usianya sudah satu abad lebih, masjid Jurra masih dalam kondisi baik.

Penduduk desa mengatakan tempat ibadah tersebut menjadi simbol persatuan penduduk. Pembangunan masjid ini dibantu oleh seluruh penduduk desa secara sukarela.

Selain pekerjaan sipil, beberapa tukang kayu dan pemahat kayu meletakkan karya mereka dengan ukiran pilar dengan desain bunga yang berbeda.

”Masjid Jurra memainkan peran penting dalam menjaga persatuan penduduk desa dan simbol warisan budaya swat. Karena mereka tidak hanya menawarkan doa di dalamnya. Tetapi juga beristirahat di sana selama musim panas yang panjang dan hari-hari musim dingin yang dingin,” kata Khaista Gul, seorang warga desa berusia 95 tahun, yang juga pengurus masjid.

“Selain menjadi tempat ibadah, masjid ini telah melindungi peninggalan kami yang berabad-abad, yakni dalam bentuk ukiran kayu. Karena setiap pilarnya adalah monumen masa lalu dan setiap pola bunga mewakili warisan yang luhur,” tambahnya, seperti dikutip dari Dawn, Sabtu (9/6/2018).

Rupanya, banyak pengunjung mengunjungi masjid dalam jumlah besar untuk melihat ukiran kayu pada balok dan pilar, serta arsitektur batu-lumpur yang unik. Namun, bagian terbaik dari masjid adalah sumur air kuno dan teknologi pengangkatan air yang unik.

“Tradisi ini yang akan membawa Anda kembali ke masa ketika air terangkat dari sumur dengan cara yang berbeda. Kami mengangkat air dengan teknik yang sangat sederhana yang dikenal sebagai peningkatan counterpoise,” kata Fazl Shah, salah satu warga desa.

Ternyata, teknik ini digunakan oleh Mesir kuno untuk tujuan irigasi. Ketika para wisatawan mengunjungi masjid, teknik angkat counterpoise ini sangat menarik perhatian mereka untuk mengabadikannya dengan kamera. (Vina)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here