Apa yang Membuat Rasulullah Marah?

218

Muslim Obsession – Ummul mukminin Aisyah pernah bertanya kepada Nabi Muhammad Saw, “Apakah engkau menghadapi suatu hari yang lebih berat daripada hari Uhud?”

Hari Uhud adalah saat Rasulullah terluka. Wajah beliau yang mulia luka karena hantaman pedang yang membuat helm perangnya bengkok menusuk wajah dan gigi beliau patah karena serangan itu.

Nyawa beliau terancam, bahkan sahabat-sahabatnya gugur di medan perang.
Namun beliau menjawab pertanyaan Aisyah dengan menyatakan ada yang lebih berat dibanding hari Uhud.

Kata beliau, “Aku telah mengalami penderitaan dari kaummu. Penderitaan paling berat yang aku rasakan, yaitu saat di Aqabah…”.

Yakni saat beliau berdakwah ke Thaif. Mengajak penduduk Thaif untuk memeluk Islam. Namun dibalas dengan cara yang hina. Mereka mengeluarkan anak-anak dan budak-budak untuk melempari Nabi dengan batu. Hingga beliau pingsan menahan luka.

Setelah tersadar, beliau ditawari malaikat penjaga gunung, kalau mau membalas. Namun beliau tidak marah. Justru berharap kebaikan untuk penduduk Thaif.

Nabi menjawab, “Bahkan aku berharap kelak Allah memunculkan dari tulang rusuk mereka orang-orang yang menyembah Allah.”

Pertanyaannya, kalau derita berat ini tidak membuat beliau marah, tentu yang membuat beliau marah adalah sesuatu yang lebih besar dari peristiwa ini.
Apa yang membuat Nabi marah?

Ummul mukminin Aisyah meriwayatkan sebuah hadits tentang marahnya Rasulullah. “Pada hari ke-4 atau ke-5 Dzulhijjah, Rasulullah datang menemuiku dalam keadaan marah. Aku berkata, ‘Siapa yang membuatmu marah wahai Rasulullah? Semoga Allah memasukkannya ke neraka’.

Beliau menjawab, ‘Apakah pendapatmu ketika aku memerintahkan orang-orang dengan suatu perintah, lalu mereka bimbang (ragu dalam melaksanakannya)’.” (HR. Muslim).

Peristiwa ini terjadi pada haji wada’ tahun 10 H. Maka, pelajaran yang dapat diambil adalah:

Pertama: Aisyah tidak mengetahui apa yang menyebabkan Rasulullah marah. Namun serta merta Aisyah mendoakan orang yang membuat beliau marah dengan masuk neraka.

Bagaimana respon Rasulullah? Beliau sama sekali tidak mengoreksi ucapan Aisyah. Artinya apa yang diucapkan Aisyah adalah benar.

Kedua: Artinya orang yang membuat Nabi marah akan masuk neraka jika tidak bertaubat.

Ketiga: Sebab beliau marah adalah orang-orang meragukan apa yang beliau perintahkan. Nabi tidak mengatakan mereka mengingkari, memaksiati, dan membantah perintahku. Tapi beliau katakan mereka ragu dalam mengamalkannya.

Keempat: Renungan bagi kita, seandainya Rasulullah saat ini diutus kepada kita, betapa banyak kita yang terancam masuk neraka karena meragukan perintahnya. Bahkan bukan lagi ragu, sebagian ada yang malah menentangnya.

Kelima: Meragukan atau bahkan menentang perintah beliau lebih besar keburukannya dibanding derita fisik yang beliau rasakan.

Beliau dilempari penduduk Thaif dengan batu, namun beliau tidak marah justru mendoakan kebaikan. Namun ketika umat Islam sendiri meragukan perintah beliau, maka beliau marah.

Artinya musibah duniawi itu jauh lebih ringan dibanding musibah agama berupa mengingkari perintah Allah dan Rasul-Nya.

Wallahu A’lam bish Shawab (Vina – Dikutip dari KisahMuslim.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here